Rabu, 03 Januari 2018

HUBUNGAN SILATURAHMI



Membahas tentang silaturahmi, apa arti dari kata “silaturahmi” itu?
Silaturahmi dibentuk dari kata shilah dan ar rahim. Kata shilah berasal dari washalayashilu-wasl(an) washilat(an), artinya adalah hubungan. Adapun ar-rahim atau ar-rahm, jamaknya arhâm, yakni rahim atau kerabat. Asalnya dari ar-rahmah (kasih sayang); yang digunakan untuk menyebut rahim atau kekerabatan.

Dengan demikian, secara bahasa silaturahmi artinya adalah hubungan kekerabatan.
Namun, sekarang banyak sekali tantangan-tantangan dalam menjalin silaturahmi pada sesama, contoh seperti sekarang sering sekali kita menerima informasi yang berbau fitnah, kebencian, dan provokasi sehingga menyebabkan rusaknya silaturahmi yang baik.
               
 “Sesungguhnya setan benar-benar berputus asa untuk dapat disembah oleh orang-orang yang shalat. Akan tetapi dia akan tetap menyebarkan permusuhan diantara mereka.” (HR. Tirmidzi)

Lalu, bagaimana cara kita agar bisa menghindari rusaknya tali silaturahmi? Berikut cara-caranya :
-         -- Berhenti menebar kebencian
-         -- Membuang jauh-jauh ego kita
-         -- Memahami tujuan kita diciptakan
-         -- Sering membantu antar sesama
-         -- Membalas segala sesuatu dengan kebaikan

Silaturahmi juga menyebabkan seorang hamba tidak akan putus hubungan dengan Allah di dunia dan akhirat.

Disebutkan dalam Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, dari Abu Ayyûb al-Anshârî:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ : يا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِمَا يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ فَقَالَ النَّبِيُّ : لَقَدْ وُفِّقَ أَوْ قَالَ لَقَدْ هُدِيَ كَيْفَ قُلْتَ ؟ فَأَعَادَ الرَّجُلُ فَقَالَ النَّبِيُّ : تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ ذَا رَحِمِكَ فَلَمَّا أَدْبَرَ قَالَ النَّبِيُّ : إِنْ تَمَسَّكَ بِمَا أَمَرْتُ بِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh dia telah diberi taufik,” atau “Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?” Lalu orang itupun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi”. Setelah orang itu pergi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga”